When I'm not sitting in front of my PC, I'd probably be either sleeping, eating, reading a book...or having a life.
Yep, itu kenyataannya. Kalau gue tidak ada di depan komputer, ya biasanya gue tidur, makan, atau membaca sebuah buku (yang tentu saja buku umum, kadang berhubungan dengan komputer, kadang enggak), atau gue menjalankan hidup gw. Normal. (Lho biasanya di depan kompie ga normal toh?).
Udah lumayan lama ya sejak gue berlomba-lomba (dgn siapa?) untuk ngepost di blog merah-putih ini. Terutama sejak 'kedatangan' redgeek, ya gue cukup terhibur dengan gambar anak TK yang gue gambar pake tetikus (baca:mouse) itu.
Terutama lagi bulan Ramadhan gini (bulan di mana kaum Muslimin pada berpuasa dari makan minum dan hawa nafsu lainnya. Eh udah pada tau ya?), enaknya tidur nunggu adzan maghrib berkumandang. Tapi lebih enak lagi main komputer sampe ketiduran. Atau, kayak yang tadi gue bilang, gue ambil buku secara acak dan gue baca -- sambil tiduran tentunya.
Buku yang mendapat nasib buruk di bulan ini adalah Digital Fortress (Benteng Digital) yang ditulis oleh Dan Brown 12 tahun yang lalu. Gue sekarang sedang membaca versi Indonesianya (konon, buku Dan Brown cukup berat, apalagi kalau dibaca dalam versi aslinya, bulenya, inggrisnya).
Buku yang ditulis oleh Dan Brown sebelum buku-buku yang lebih terkenalnya keluar (Angels & Demons, Deception Point, The Da Vinci Code, dan Lost Symbols) bertemakan techno-thriller. Ya, ada lagi kata 'tech' dalam temanya. Bukunya menceritakan tentang NSA (National Security Agency) yang kelabakan karena menerima 'Digital Fortress' yaitu kode yang tidak bisa dipecahkan (sampai gue membaca sekian bab, ya belum dipecahkan sih) oleh mesin TRANSLATR (komputer tercepat yang ada di NSA, dalam buku tentunya).
Yang gue suka dari buku ini adalah tokoh utamanya adalah seorang perempuan (hidup perempuan!) dengan IQ 170 (katanya). Oh dan buku ini sangat gue rekomendasikan untuk penggemar teknologi, terutama keamanan informasi (kriptologi). Yak, ujung-ujungnya nggak jauh dari mainan satu itu deh bacaan gue. Crypto made my days. Mendampingi buku tersebut, adalah buku tentang kriptografi (lupa judulnya apa) serta sebuah biskuit dan susu/coklat panas (yang ini kalau udah buka puasa ya!).
Oke! Sekian post gue (yang kok jadinya kayak resensi?) yang kali ini tanpa gambar redgeek (lagi malas buka inkscape).
Adios!